Pontianak— Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tidak hanya memberikan peluang dan keuntungan bagi penggunanya, namun juga turut membuka potensi baru ancaman kejahatan digital semisal penipuan serta pencurian data pribadi. Sehingga, warganet perlu hati-hati serta terus berupaya untuk menambah kecakapan digitalnya. Terdapat sejumlah kiat yang dapat diterapkan warganet untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menjaga identitas pribadi di dunia internet dan media sosial.
Demikian yang mengemuka dalam webinar bertema “Hati-Hati Jaga Privasi dan Data Pribadi di Ruang Digital” di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (15/9/2022), yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.
Sebagai narasumber webinar adalah Dosen Teknologi Informasi Politeknik Negeri Samarinda dan Relawan TIK Kalimantan Timur, Mulyanto S.Kom MCS; Relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Solo sekaligus Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, Adriana Grahani Firdausy; serta Programmer Website dan juga Relawan TIK, Tri Wiyatmo Sumaryawan S.Kom.
Baca juga: Theraskin Hadirkan 3 Rangkaian Skincare Terbaru
Menurut Mulyanto, warganet harus mampu meningkatkan kecakapan khususnya terkait keamanan digital. Pasalnya, tingginya aktivitas digital turut membuka potensi buruk seperti tindakan penipuan dan pencurian akun.
Sejumlah kiat yang dapat dilakukan, di antaranya waspada dan menjaga identitas dengan berhati-hati saat berbagi data pribadi, membuat akun dengan kata sandi yang kuat serta dilengkapi dengan two factor authentication (2FA), waspada akan tautan tidak dikenal, jangan pernah memberikan one time password (OTP), hanya mengunduh aplikasi dari tempat yang resmi, serta mengenali dengan siapa kita sedang berkomunikasi.
“Tidak ada yang aman 100% di dunia digital, seseorang bisa membuat akun bernama A tapi ternyata orangnya berbeda. Sehingga, yang bisa kita lakukan adalah mengurangi risikonya sedapat mungkin. Kemudian, yang namanya aman itu berbanding terbalik dengan yang namanya kemudahan atau kenyamanan. Memang agak sedikit ribet seperti pakai OTP atau tools authentication akan sedikit repot, tapi hal itu akan membuat lebih waspada dan akan lebih aman di dunia digital,” ujar dia.
Pada sesi kedua, Adriana Grahani Firdausy memaparkan materi terkait pentingnya dan upaya menjaga data pribadi di dunia maya. Ia menjelaskan, data pribadi yang tidak terjaga dengan baik akan berpotensi mendatangkan keburukan bagi si pemilik, misalnya ancaman kekerasan atau intimidasi, serta penyalahgunaan data ataupun pencemaran nama baik. Selain itu, konstitusi juga menjamin setiap orang sebagai pengendali atas data pribadinya.
Baca juga: Ini Cara Mengurangi Lemak Visceral yang Berbahaya
Untuk dapat menjaga data pribadi, warganet diharapkan berhati-hati dalam mengunggah sesuatu di media sosial dan menghindari untuk berbagi identitas pribadi, memajang foto anak, serta alamat lengkap rumah. Warganet juga harus memastikan dengan hanya membuka situs internet yang telah dilengkapi enskripsi SSL atau dengan alamat yang diawali https, menghindari wifi publik saat membuka aplikasi yang sifatnya rahasia, serta berhati-hati dengan ancaman phishing.
“Ada juga tips dan trik untuk memeriksa apakah alamat email sudah aman dari kebocoran data, salah satunya dengan aplikasi periksadata.com. Kalau ternyata ada email yang sudah tidak aman, maka segera ganti password. Selain itu, untuk menjaga keamanan gunakan juga alamat email yang berbeda-beda sesuai aktivitas, misalnya satu alamat email untuk pekerjaan, satu untuk transaksi penjualan online, dan satu lagi untuk email perbankan,” jelasnya.
Tri Wiyatmo Sumaryawan menambahkan, salah satu upaya dalam meningkatkan keamanan digital yaitu, warganet harus berhati-hati dalam mengunjungi tautan di internet dan jangan asal klik. Sebab, dampak yang bisa terjadi akibat salah mengunjungi suatu tautan ialah serangan malware. Virus tersebut merupakan perangkat lunak yang dirancang untuk merusak sistem atau mencuri data pribadi. Menurutnya, situs yang paling rentan serangan virus misalnya website yang berisi konten pornografi.
Beberapa ciri gawai yang terindikasi terkena serangan malware di antaranya, muncul aplikasi yang belum pernah diunduh sebelumnya, tidak berfungsi atau nge-hang secara teratur, baterai cepat terkuras, penggunaan data lebih meningkat, iklan pop-up muncul lebih sering, serta tiba-tiba datang tagihan via pesan singkat. Selain serangan virus, potensi kejahatan digital yang mengancam pencurian data pribadi juga bisa terjadi lewat modus phising dan scam.
“Scam adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan skema penipuan bisnis untuk mengambil uang atau barang lainnya dari korban. Pelaku kejahatan scam biasanya menggunakan website palsu untuk mencuri informasi pribadi serta menyalahgunakannya untuk keuntungan finansial. Contohnya, link BRI palsu yang disebarkan untuk tujuan mendapatkan username dan password akun aplikasi Brimo,” imbuh dia.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif. Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. Untuk mengikuti kegiatan yang ada, masyarakat dapat mengakses info.literasidigital.id atau media sosial Kemenkominfo dan Siberkreasi. (any)















