Dunia – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan keras terkait situasi di Iran. Trump secara terbuka mendorong para demonstran di Iran untuk merebut kendali lembaga-lembaga pemerintahan dan menyatakan Amerika Serikat siap memberikan dukungan serta menjatuhkan konsekuensi berat kepada pejabat Iran yang dianggap melakukan pelanggaran.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam pidatonya di Detroit Economic Club, Selasa 13 Januari 2026 waktu setempat, yang juga diunggah melalui akun Truth Social miliknya. Dalam kesempatan itu, Trump menyatakan dukungan terhadap gerakan protes yang tengah berlangsung di Iran.
Baca juga: Bantuan Mesir Mulai Masuk Gaza
Ia meminta masyarakat Iran untuk terus melakukan aksi dan mencatat pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab atas tindakan represif. Trump menegaskan bahwa para pelaku akan dimintai pertanggungjawaban dan menghadapi harga yang mahal atas perbuatannya.
Gelombang demonstrasi di Iran dipicu oleh merosotnya nilai mata uang nasional sejak akhir Desember lalu. Hingga kini, data korban jiwa masih menjadi perdebatan. Sejumlah media Barat dan kelompok aktivis mengklaim jumlah korban mencapai ribuan orang, sementara laporan resmi pemerintah Iran menyebutkan angka ratusan. Trump menyatakan pemerintah AS masih melakukan verifikasi sebelum menentukan langkah lanjutan.
Baca juga: Puluhan Ruas Jalan di Jakarta Tergenang, 57 RT Terdampak
Saat ditanya mengenai bentuk bantuan yang dijanjikan, Trump mengindikasikan tekanan ekonomi sebagai salah satu opsi utama. Ia menyebut kemungkinan penerapan tarif dan sanksi tambahan terhadap negara-negara yang tetap menjalin kerja sama bisnis dengan Iran.
Dalam wawancara dengan CBS News, Trump juga tidak menutup peluang penggunaan kekuatan militer. Ia merujuk pada kebijakan luar negeri yang pernah diambil AS, termasuk operasi di Venezuela serta tindakan militer terhadap pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi dan Jenderal Iran Qasem Soleimani.
Trump menegaskan bahwa tujuan akhir dari kebijakan tersebut adalah kemenangan bagi Amerika Serikat.
Pemerintah Iran menanggapi keras pernyataan tersebut dengan menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang berada di balik kerusuhan. Teheran menyebut kondisi saat ini sebagai bentuk perang terorisme yang didukung kekuatan asing. Iran juga memperingatkan akan menyerang pasukan AS di Timur Tengah apabila terjadi intervensi langsung.
Sementara itu, Rusia sebagai sekutu Iran turut mengecam pernyataan Trump. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menilai Barat tengah berupaya mengguncang stabilitas Iran melalui skenario revolusi warna dengan memanfaatkan krisis ekonomi yang dipicu oleh sanksi Amerika Serikat.
Menyusul meningkatnya eskalasi, Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan tingkat tinggi bagi warganya di Iran agar segera meninggalkan negara tersebut. Langkah serupa juga dilakukan oleh sejumlah negara lain seperti Kanada, Australia, Jerman, dan Prancis dengan alasan risiko penahanan sewenang-wenang serta potensi konflik yang dapat meningkat secara tiba-tiba. (put)


















