CIMAHI – TPA Leuwigajah di Kota Cimahi selama bertahun-tahun menjadi tempat bergantung hidup bagi para pemulung. Di antara tumpukan sampah setinggi puluhan hingga ratusan meter, mereka memilah botol, plastik, dan logam yang bisa dijual demi menyambung kebutuhan sehari-hari.
Aktivitas itu berlangsung tanpa henti seiring meningkatnya produksi sampah dari wilayah Bandung Raya. Namun di balik gunungan limbah tersebut, tersimpan ancaman yang tak terlihat. Gas metana yang terperangkap di dalam timbunan sampah terus terakumulasi dan berpotensi memicu ledakan sewaktu-waktu.
Baca juga: Ahmad Sahroni Pimpin Lagi Komisi III DPR RI
Bencana itu akhirnya terjadi pada 21 Februari 2005, tepat 21 tahun silam. Mengutip laporan yang dimuat CNBC Indonesia, peristiwa tersebut diawali hujan deras yang mengguyur kawasan TPA pada dini hari. Warga sekitar menganggapnya sebagai hujan biasa, tanpa menyadari bahwa curah hujan justru meningkatkan tekanan gas metana dan memperparah ketidakstabilan struktur sampah.
Tak lama kemudian, ledakan besar mengguncang area tersebut. Api menyala ke udara, disusul longsoran dahsyat dari gunungan sampah yang bergerak seperti gelombang besar. Peristiwa itu kerap disebut sebagai tsunami sampah karena menghantam dan menimbun permukiman di sekitarnya dalam waktu singkat.
Baca juga: Musda Perbasi Jabar 2026 Disoal, Dinilai Cacat Hukum
Tempat yang selama ini menjadi sumber penghidupan berubah menjadi lokasi bencana mematikan. Dalam proses evakuasi selama 15 hari, tim penyelamat menemukan 157 jasad, sementara ratusan lainnya dinyatakan hilang. Korban mayoritas merupakan pemulung dan warga yang tinggal di sekitar TPA, sementara rumah dan fasilitas umum turut tertimbun.
Tragedi Leuwigajah kemudian tercatat sebagai salah satu insiden tempat pembuangan akhir terburuk di dunia, setelah peristiwa di TPA Payatas, Filipina, pada 2000. Para ahli dari Institut Teknologi Bandung menyebut penyebab utama longsor dipicu sistem penimbunan yang tidak dipadatkan, lereng yang terlalu curam, keberadaan mata air di bawah timbunan, serta tekanan gas metana yang terperangkap.
Sejumlah tanda bahaya sebenarnya telah muncul sebelum kejadian, seperti retakan tanah dan longsor kecil. Namun peringatan tersebut tidak ditangani secara serius. Pasca peristiwa itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menutup TPA Leuwigajah dan mulai mendorong pengelolaan sampah yang lebih aman. Kini kawasan tersebut telah menghijau, dan setiap 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional. (nay)
















