Jakarta-Serangan siber bukan lagi sekadar ancaman kriminal, melainkan telah menjadi bagian dari strategi geopolitik negara-negara besar. Laporan CrowdStrike Global Threat Report 2025 mengungkap bagaimana China, Iran, dan Korea Utara semakin agresif dalam menjalankan operasi siber mereka.
Bukan sekadar spionase atau pencurian data, tetapi juga upaya melemahkan infrastruktur kritis, mencuri rahasia industri, hingga memanipulasi informasi melalui teknologi AI.
China: Eskalasi Spionase Siber Hingga 150%
Baca juga: PT. BKN dan Sistema.bio Hadirkan Solusi Energi Bersih untuk Peternak Indonesia
China menjadi sorotan utama dalam laporan ini dengan peningkatan 150% dalam operasi spionase siber yang didukung negara. Serangan yang menargetkan sektor keuangan, media, manufaktur, dan industri meningkat hingga 300%, menjadikan dunia bisnis sebagai medan tempur digital yang semakin panas.
“China tidak lagi hanya mengumpulkan data, mereka kini lebih agresif dalam mengeksploitasi informasi yang diperoleh untuk keuntungan strategis,” ujar Adam Meyers, Head of Counter Adversary Operations, CrowdStrike.
Baca juga: Galaxy S25 Series Hadir dengan Samsung Wallet
Iran: AI sebagai Senjata Eksploitasi Keamanan
Iran tak mau ketinggalan dalam perang siber. Negara ini semakin aktif menggunakan AI generatif untuk meneliti celah keamanan, mengembangkan eksploitasi, dan memperbaiki jaringan domestik mereka. Ini mengindikasikan bahwa AI bukan hanya digunakan untuk bertahan, tetapi juga untuk menyerang.
Menurut laporan tersebut, Iran kini lebih banyak mengandalkan AI dalam riset serangan mereka. “Mereka mengembangkan metode baru untuk menemukan kelemahan sistem sebelum pihak lain bisa menutupnya,” kata seorang analis keamanan CrowdStrike.
Korea Utara: Ancaman Orang Dalam yang Mengkhawatirkan
Sementara itu, Korea Utara memanfaatkan strategi yang lebih sulit dideteksi: ancaman orang dalam. Kelompok FAMOUS CHOLLIMA disebut bertanggung jawab atas 304 insiden di tahun 2024, dengan 40% di antaranya melibatkan infiltrasi melalui pekerjaan yang sah.
“Pelaku ancaman dari Korea Utara tidak hanya menyerang dari luar, tetapi juga menyusup ke dalam organisasi sebagai pegawai yang sah untuk mendapatkan akses sistem,” ungkap laporan CrowdStrike.
Perang Dingin Digital: Bagaimana Dunia Menanggapinya?
Dengan meningkatnya intensitas serangan ini, muncul pertanyaan besar: Apakah dunia siap menghadapi perang siber dalam skala penuh?
Menurut Meyers, “Pelaku ancaman mengeksploitasi celah identitas, memanfaatkan rekayasa sosial, dan bergerak melintasi berbagai domain tanpa terdeteksi—membuat sistem pertahanan lama menjadi tidak efektif.”
Perusahaan dan pemerintah kini harus mempertimbangkan strategi baru dalam menghadapi ancaman yang semakin cepat dan sulit dideteksi. Platform keamanan berbasis intelijen real-time, AI, dan pelacakan ancaman menjadi kebutuhan mendesak untuk menghadapi musuh yang tidak kasat mata. (any)




















