Jakarta-Kehadiran alternatif pendanaan melalui Venture Debt semakin mendapat perhatian para pelaku industri sebagai strategi ekspansi dan pertumbuhan bisnis yang lebih fleksibel. Dalam diskusi media yang digelar oleh Qverse di Iwan Tirta Home Panglima Polim, Jakarta Selatan, Rabu (12/2/2025), beberapa pemimpin perusahaan berbagi pandangan mengenai manfaat skema pendanaan ini.
CEO & Founder Brodo, Yukka Herlanda, CEO Endorphins, Leonard Utomo, serta CEO MB Truss Co, Gion Darwis, sepakat bahwa Venture Debt memberikan opsi pembiayaan yang lebih adaptif sesuai dengan profil dan risiko bisnis tanpa mengurangi kepemilikan perusahaan.
Pendanaan yang Bertanggung Jawab dan Berkelanjutan
Baca juga: Edukasi Jajanan Sehat: So Nice Hadir di 380 Sekolah untuk Tingkatkan Konsumsi Protein Hewani
Dalam kesempatan yang sama, CEO Qverse Gena Bijaksana menegaskan komitmen Qverse sebagai growth partner bagi para pendiri bisnis di Indonesia. Ia menekankan pentingnya mengejar responsible growth, bukan lagi sekadar pertumbuhan dengan segala cara (growth at all cost), yang kini dianggap tidak relevan.

“Founders dan bisnis harus memiliki strategi pertumbuhan yang sehat, dengan profitabilitas yang jelas, pengelolaan biaya yang bijaksana, serta penggunaan pendanaan berbasis fundamental bisnis yang kuat,” ujar Gena.
Baca juga: Trump Kembali Dilantik: Ini Dampaknya pada Industri Kripto
Qverse sendiri menawarkan skema pendanaan berbentuk pinjaman (Venture Debt) tanpa memerlukan jaminan tradisional (traditional collateral). Model pendanaan ini juga mengusung prinsip fair funding dan risk sharing, sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan bisnis masing-masing.
“Dari 2022 hingga 2023, kami telah menyalurkan sekitar Rp200 miliar–Rp300 miliar per tahun untuk mendukung bisnis lintas industri,” ungkap Gena.
Keunggulan Venture Debt bagi Bisnis
Para pelaku usaha yang hadir dalam diskusi ini menekankan bahwa sebelum mengambil pendanaan, para founders harus memastikan bisnis mereka memiliki fundamental yang solid. Dengan demikian, pendanaan akan benar-benar digunakan untuk ekspansi dan mengurangi risiko kegagalan.
CEO Endorphins, Leonard Utomo, menyoroti manfaat Venture Debt dalam menjaga kepemilikan bisnis.
“Dengan debt financing, kami bisa tetap memiliki 100% kepemilikan bisnis. Dalam jangka panjang, ini lebih menguntungkan,” ujar Leonard.
Ia juga menambahkan bahwa skema pendanaan ini sangat cocok bagi UMKM yang ingin berkembang dengan cepat dan skalabilitas tinggi.
Senada dengan Leonard, CEO Brodo, Yukka Herlanda, berbagi pengalamannya dalam menggunakan pendanaan dari Qverse untuk mendukung produksi bisnisnya, terutama di saat-saat krusial seperti Ramadan dan Lebaran.
“Kami membutuhkan dana besar dalam waktu cepat dengan syarat yang fleksibel. Jika ke investor, prosesnya panjang. Ke bank, mereka meminta aset yang tidak kami miliki. Jadi bagi kami, Qverse adalah solusi terbaik,” jelas Yukka.
CEO MB Truss Co, Gion Darwis, juga mengungkapkan bahwa pendanaan dari Qverse membantu menjaga arus kas perusahaannya, terutama saat harga besi mengalami fluktuasi.
Pendekatan 3P: Profit, Prudence, dan Promising Fundamentals
Head of Investor Relations Qverse, Anggara Pradipta, menjelaskan bahwa Qverse menerapkan prinsip Profit, Prudence, and Promising fundamentals (3P) dalam mendukung pertumbuhan bisnis mitranya.
“Kami memahami dinamika industri dan kompleksitas bisnis, sehingga pendekatan kami lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing portofolio. Namun, kami juga berkomitmen menjaga pertumbuhan bisnis mereka agar tetap berkelanjutan,” ujar Anggara.
Untuk memastikan keberlanjutan bisnis yang didanai, Qverse juga menerapkan sistem pemantauan pertumbuhan bisnis secara menyeluruh dan berkala. Hal ini bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan sejak dini dan mengantisipasi risiko bersama.
Melalui pendekatan ini, Qverse berharap dapat menjadi mitra strategis bagi para pelaku usaha yang ingin berkembang dengan cara yang lebih sehat dan berkelanjutan. (any)



















