Jakarta -Pandemi COVID-19 yang berlangsung lebih dari dua tahun turut mempengaruhi perkembangan anak-anak sekolah. Belajar di rumah membuat anak lebih sering bersinggungan dengan gadget dibanding menulis.
Padahal, menulis dengan tangan adalah kecakapan dasar yang sangat penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan anak, terutama untuk perkembangan otak dan daya ingat. Kecakapan ini bahkan dapat memperkuat tumbuhnya kecakapan yang lain.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan di Jurnal Psychological Science oleh Johns Hopkins University (JHU), disebutkan bahwa menulis dengan tangan dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak dan memperbaiki motorik-perseptual mereka.
Baca juga: Konferensi Waligereja Indonesia Kembali Gelar Indonesian Youth Day
Hal ini berdampak pada perkembangan literasi dan numerasi anak menjadi lebih cepat. Menulis dengan tangan justru lebih efektif daripada mengetik pada keyboard atau menonton video. Pernyataan tersebut merupakan hasil penelitian Wiley & Rapp pada 29 Juni 2021.
Nah, mengembalikan minat menulis anak, Sinar Dunia (SiDU) kembali menggelar program Ayo Menulis. Rangkaian program Ayo Menulis ini diawali dengan kegiatan Lomba Menulis nasional dengan tema “Harta Karun Indonesia”. Kegiatan ini berlangsung hingga 22 Juni 2023 menyasar siswa kelas 3, 4 dan 5 SD di seluruh Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan literasi anak usia dini.
Dr. Sugiyanto, S.IP, Widyaprada Ahli Madya Direktorat SD Kemdikbudristek RI juga menekankan pentingnya menulis tangan sejak dini. Selain bermanfaat untuk perkembangan otak dan keterampilan anak, menulis dengan tangan juga berdampak pada pertumbuhan mental secara keseluruhan. Menulis dengan tangan bukan hanya membantu mereka memahami informasi lebih baik, tetapi juga mendukung perkembangan keterampilan motorik dan sosial mereka.
Baca juga: Cerita Rafli Raih Pekerjaan Impian Melalui BCA Synrgy Academy
“Saat ini anak-anak memang lebih suka menggunakan gadget. Saya mendukung ada kegiatan menulis dengan tangan sejak dini. Bisa melatih mereka untuk lebih fokus dalam segi kognitif. Jadi menulis dengan tangan bisa kita simpulkan bahwa sebagai aktivitas fisik yang menyenangkan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (24/5/2023)
Ayo Menulis merupakan inisiatif SiDU yang telah berjalan sejak 2017. Di 2023 ini, SiDU berkolaborasi dengan Majalah CIA untuk mewujudkan gerakan edukasi melalui kegiatan pelatihan dan lomba menulis bertema “Harta Karun Indonesia”. Kegiatan ini akan diikuti oleh 500 sekolah dasar yang tersebar di Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Bali, hingga NTT.
Target peserta lomba yang akan berlangsung sampai bulan Juni 2023 ini mencapai 5 ribu. Dan sebanyak 51 tulisan terpilih akan diterbitkan dalam bentuk buku berjudul “Harta Karun Indonesia”. Kegiatan menulis ini rencananya akan dicatat dalam Rekor MURI sebagai Peserta Terbanyak Lomba Tingkat Nasional Menulis Tangan.
“Kami sangat mendukung pemerintah dalam upaya meningkatkan literasi khususnya kemampuan menulis sejak dini. Kami percaya bahwa menulis dengan tangan adalah keterampilan penting dan dasar yang harus dikuasai oleh anak anak. SiDU selain menyediakan produk, SiDU juga berkomitmen untuk menyediakan berbagai kegiatan pelatihan atau lomba menulis dengan tujuan agar menulis dengan tangan menjadi kegiatan yang menyenangkan,” kata Domestic Business Head Stationery Business Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas, Adi Kurniawan.
Founder Majalah CIA Stefanie Augustin menambahkan, membaca dan menulis dengan tangan adalah hak dasar anak-anak dan merupakan cara yang efektif untuk membangun kemampuan penting lainnya. “Dalam upaya menumbuhkan kembali minat anak anak untuk menulis dengan tangan, Shahnaz Hague, artis sekaligus pemerhati pendidikan keluarga, menilai bahwa menulis tangan bukan hanya bermanfaat bagi perkembangan otak, tetapi juga berperan penting dalam menjaga kesehatan menta) anak anak Generasi Z,” tukasnya.
Namun, upaya menghidupkan kembali kebiasaan menulis dengan tangan tentu bukanlah tugas yang mudah. Seperti yang dituturkan oleh Kepala SD Negeri Benhil 05 Pagi Jakarta Pusat Siti Badriyah, tantangan terbesar ada pada guru. “Pasca dua tahun pandemi, guru-guru harus bekerja ekstra untuk membiasakan anak-anak kembali menulis dengan tangan. Kendati demikian, semua upaya tersebut dilakukan dengan harapan besar untuk memajukan literasi di kalangan siswa,” ungkapnya. (any)


















