Jakarta – Ibadah haji dan umrah adalah impian bagi umat Islam di seluruh dunia. Namun, perjalanan ke tanah suci juga membawa tantangan kesehatan, terutama bagi jemaah lanjut usia yang rentan terhadap infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Salah satu ancaman serius adalah Respiratory Syncytial Virus (RSV), virus yang dapat menyebabkan komplikasi pernapasan serius, terutama bagi lansia dan individu dengan penyakit kronis.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerja sama dengan Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (PERDOKHI) dan Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, dengan dukungan dari GSK Indonesia, memberikan rekomendasi pencegahan ISPA akibat RSV bagi jemaah haji dan umrah.
Tingginya Risiko Infeksi Pernapasan Saat Ibadah Haji dan Umrah
Baca juga: VEM Juice: Dari Media Sosial ke Dominasi Pasar Vape Indonesia
Setiap tahun, sekitar 2-3 juta jemaah dari berbagai negara berkumpul di tanah suci, menciptakan lingkungan dengan risiko tinggi penularan penyakit menular pernapasan seperti influenza, COVID-19, hingga RSV. Studi menunjukkan bahwa jemaah sering mengalami ISPA akibat paparan virus di tengah kerumunan besar.

Lebih dari itu, data Pusat Kesehatan Haji mencatat bahwa jumlah jemaah haji lansia meningkat signifikan dalam 7 tahun terakhir. Pada 2024, 21% jemaah berusia di atas 65 tahun, kelompok yang lebih rentan terhadap komplikasi kesehatan. Di tahun yang sama, tercatat 461 jemaah wafat di Arab Saudi, dengan 207 orang berusia di atas 71 tahun.
Baca juga: VEM Juice: Dari Media Sosial ke Dominasi Pasar Vape Indonesia
Dengan meningkatnya jumlah lansia, daya tahan tubuh mereka pun menurun akibat kondisi yang dikenal sebagai Penurunan Kekebalan Terkait Usia atau Age-Related Declined in Immunity (ARDI). Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap infeksi pernapasan serius.
Selain itu, kondisi yang disebut sebagai “tripledemic”—di mana influenza, COVID-19, dan RSV beredar secara bersamaan—juga menjadi ancaman serius bagi jemaah.
Beban Ekonomi Akibat ISPA: Vaksinasi Jadi Investasi Kesehatan
Infeksi pernapasan bukan hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga menimbulkan beban ekonomi yang besar. Di Indonesia, pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dirawat karena infeksi pernapasan viral dapat menghabiskan biaya lebih dari Rp7 juta per episode perawatan.
Padahal, banyak penyakit menular seperti influenza, Covid-19, dan RSV dapat dicegah melalui vaksinasi. Oleh karena itu, vaksinasi menjadi langkah utama dalam melindungi jemaah dari risiko rawat inap hingga kematian akibat komplikasi pernapasan.
Langkah Pencegahan dan Rekomendasi PDPI
Dalam upaya meningkatkan perlindungan bagi jemaah haji dan umrah, PDPI mengeluarkan Panduan Penatalaksanaan Penyakit Paru dan Pernapasan bagi Petugas Kesehatan Haji dan Umrah. Panduan ini bertujuan untuk:
– Meningkatkan kesadaran akan risiko penyakit pernapasan menular
– Membantu petugas kesehatan dalam menangani kasus ISPA di lapangan
– Menyediakan rekomendasi vaksinasi untuk jemaah sebelum keberangkatan
Ketua Tim Kerja Pemeriksaan Kesehatan Haji, dr. Mohammad Imran, MKM, menegaskan bahwa konsultasi medis sebelum keberangkatan sangat penting untuk meningkatkan perlindungan jemaah. “Selain menjaga kebersihan dan menerapkan protokol kesehatan, vaksinasi adalah solusi terbaik untuk mengurangi risiko infeksi pernapasan yang bisa mengancam nyawa, terutama pada lansia,” ujarnya di Jakarta, Rabu (26/2/2025).
Prof. Dr. Tjandra Yoga SpP(K), MARS, DT&H, DTCE FISR, Ketua Majelis Kehormatan PDPI, menambahkan bahwa Saudi Arabia telah memasukkan vaksin RSV sebagai program imunisasi nasional bagi warganya yang berusia di atas 60 tahun.
RSV: Ancaman Serius bagi Lansia, Bukan Hanya Anak-anak
RSV sering dianggap sebagai penyakit anak-anak, padahal lansia juga sangat rentan. Menurut studi di negara-negara berpendapatan tinggi, setiap tahunnya terdapat 470.000 lansia yang harus dirawat inap akibat RSV, dan sekitar 30.000 meninggal di rumah karena infeksi ini.
Di Asia Tenggara, kasus RSV pada orang dewasa di atas 60 tahun diperkirakan mencapai 24,5 juta per tahun, dengan 9,7 juta kasus di Indonesia.
Lansia dengan kondisi medis seperti gagal jantung, asma, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi serius akibat RSV. Oleh karena itu, vaksinasi RSV sangat disarankan untuk kelompok berisiko tinggi ini.
Komitmen GSK dalam Pencegahan Penyakit Pernapasan
Sebagai pemimpin global dalam inovasi vaksin, GSK telah melindungi individu di lebih dari 160 negara melalui berbagai program imunisasi. Manishkumar Munot, Presiden Direktur GSK Indonesia, menegaskan bahwa perusahaannya berkomitmen untuk terus meningkatkan akses terhadap vaksin dan obat-obatan inovatif guna melindungi masyarakat Indonesia. Pihaknya juga mematuhi regulasi yang berlaku di Indonesia. “Kami memahami betapa pentingnya momen haji dan umrah bagi umat Islam. Karena itu, kami bekerja sama dengan pemerintah dan tenaga medis untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi sebagai bentuk perlindungan diri,” ujar Manishkumar.
GSK juga aktif dalam edukasi masyarakat melalui platform seperti AyoKitaVaksin dan microsite CegahRSV, yang berisi informasi lengkap mengenai pencegahan RSV dan vaksinasi.
Lindungi Ibadah Anda, Mulai dari Sekarang
Ibadah haji dan umrah adalah perjalanan suci yang membutuhkan persiapan fisik yang matang. Melindungi kesehatan sebelum berangkat dengan vaksinasi bukan hanya investasi bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama jemaah di tanah suci.
Dengan meningkatnya risiko infeksi pernapasan, terutama bagi lansia, penting bagi setiap calon jemaah untuk melakukan vaksinasi RSV, influenza, dan pneumonia sebelum keberangkatan. Berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan dan ambil langkah pencegahan yang tepat, agar ibadah Anda berjalan lancar tanpa risiko kesehatan yang membahayakan. (any)


















