JAKARTA – Wilayah DKI Jakarta disebut berpotensi merasakan dampak guncangan kuat apabila zona Megathrust di selatan Pulau Jawa dan Sumatra melepaskan energi gempa. Meski tidak berada dekat dengan sumber gempa, getaran kuat tetap dapat dirasakan hingga wilayah Jakarta.
Zona Megathrust di selatan Jawa dan Sumatra diketahui memiliki potensi gempa besar dengan kekuatan mencapai magnitudo 8,9. Potensi tersebut diungkap dalam jurnal berjudul On the Potential for Megathrust Earthquakes and Tsunamis off the Southern Coast of West Java and Southeast Sumatra, Indonesia.
Ahli Seismologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pepen Supendi, menjelaskan bahwa posisi Jakarta yang relatif jauh dari sumber gempa tidak serta-merta membuat wilayah ini bebas dari dampak guncangan. Kondisi geologi Jakarta justru menjadi faktor yang dapat memperkuat getaran gempa.
Baca juga: Prakiraan Cuaca 29 Januari: Bekasi Hujan Ringan, Dua Kecamatan Berawan
“Jakarta berada di atas lapisan endapan sedimen yang cukup tebal. Kondisi ini berpotensi memperbesar efek guncangan gempa meskipun pusat gempanya berada cukup jauh,” ujar Pepen, dikutip Sabtu (31/1/2026).
Menurutnya, dampak guncangan gempa kuat di Jakarta dapat berupa kerusakan pada bangunan yang tidak dirancang tahan gempa serta gangguan terhadap infrastruktur vital. Hal ini menjadi perhatian penting meskipun Jakarta tidak berhadapan langsung dengan zona sumber gempa.
Baca juga: Pembangunan JPO Juanda Segera Terwujud
Namun demikian, Pepen menegaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian tersebut, tidak terdapat potensi tsunami besar yang mengancam Jakarta. Hal ini disebabkan letak sumber gempa dan tsunami berada di selatan Pulau Jawa dan Sumatra, sementara Jakarta berada di pesisir utara Pulau Jawa.
“Daratan Pulau Jawa menjadi penghalang alami, sehingga energi tsunami akan mengarah ke Samudera Hindia, bukan ke Teluk Jakarta,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, wilayah pesisir Jakarta tidak termasuk dalam zona ancaman tsunami pada skenario gempa Megathrust ini. Meski potensi tsunami kecil di utara Jakarta tetap ada, ancaman utama bagi wilayah ibu kota tetap berasal dari guncangan gempa.
“Fokus kewaspadaan Jakarta seharusnya lebih diarahkan pada mitigasi risiko guncangan gempa, bukan tsunami,” pungkas Pepen. (nay)




















